Memuat...
Memuat...

Basri Amin
Batas-batas dunia yang bisa kita cermati tidak lagi ditentukan oleh kemampuan dan pengetahuan kita sendiri, melainkan oleh jejaring peristiwa yang datang silih-berganti dan yang disuguhkan oleh jejaring pelaku yang tidak semuanya bisa kita pastikan keberadaannya. Dalam banyak situasi, kita dipaksa untuk berlari, mengikuti, dan menyinggahi begitu banyak ‘pasar’ peristiwa yang tidak memberi kita waktu yang cukup untuk ‘menawar’ harganya. Ketika guncangan perubahan mendesak perbaikan, kita cenderung mencari-cari “pembenaran” (emosional) di masa lalu dan menyusun-nyusun “pencapaian” (rasional) di masa depan. Kerumitan (sosial) di masa kini lebih sering disikapi secara terpisah-pisah karena mengecilnya ruang perjumpaan yang mewadahi penghayatan yang jernih dan yang meneduhkan. Dunia keseharian kita semakin terkepung oleh hipokrisi karena usaha-usaha bersama menghidupkan percakapan terbuka dan tradisi saling-menguji keragaman sudut-pandang menyempit demikian cepat. Tampaknya, pola komunikasi pendidikan dan perjumpaan sosial kita belakangan ini lebih banyak menghasilkan ‘talk’ daripada ‘conversation’. Buku ini ‘melaporkan’ sejumlah tema yang berhasil dibaca oleh penulis dengan mendayagunakan kepekaan literernya. Kendati di dalamnya terpendam pesan-pesan edukasi yang lumayan beragam, tetapi itu semua sesugguhnya dipandu oleh sebuah sikap yang tegas, bahwa pilihan-pilihan masa depan meniscayakan konstruk pengetahuan dan pengalaman yang melintasi perbedaan geografi, generasi, dan gagasan. Di setiap elemen itulah aspirasi-aspirasi baru dimungkinkan mencapai kematangannya sebagai dasar yang kokoh bagi kebajikan bersama di masyarakat.

A.Haris Kai | Oktavianus Lintong
Integritas merupakan fondasi yang selama ini ‘berusaha ditemukan’ sebagai solusi dari berbagai problem pembangunan kepariwisataan. Pembangunan dan pengembangan destinasi, industri, pemasaran, dan kelembagaan, termasuk sumberdaya alam dan manusia sebagai potensi kepariwisataan, seringkali mengalami banyak persoalan dan kegagalan, sekalipun konsep dan strategi telah disusun dan dilaksanakan secara terstruktur dan komprehensif berdasarkan kajian-kajian ilmiah yang sangat dapat dipertanggungjawabkan.Ancaman kekurangberhasilan program pembangunan kepariwisataan, persoalannya bukan pada indikasi, konsep atau strategi, atau pula pada kajian-kajian ilmiah atau regulasi, tapi lebih kepada nilai integritas yang dimiliki oleh penyelenggara dan semua pemangku kepentingan. Kegagalan pembangunan kepariwisataan lebih sering terjadi bukan karena strategi yang salah, tapi karena lemahnya semangat, rasa tanggung jawab, disiplin, dan totalitas pengabdian para pemangku kepentingan. Karena iu, nilai integritas merupakan fondasi penting dalam pembangunan kepariwisataan. Inilah yang terpaparkan dengan mendalam buku Pariwisata Berintegritas.

Reiner Emyot Ointoe
Buku ini berkisah tentang perjalanan Marhany Pua, tokoh lokal yang terus menasional. Mulai dari masa kecil, sekolah, kuliah, aktivis dan kemudian memimpin Pemuda GMIM, mengabdi menjadi akademisi dan terpilih sebagai Direktur Polikteknik Negeri Manado, terus berkiprah mengabdi menjadi komisioner KPU, dan kemudian terpilih menjadi senator dan mengabdi sebagai anggota DPD RI dari Sulawesi Utara. Perjalanan tak berhenti hingga saat ini terus mengabdi untuk membangun Sulawesi Utara. Banyak pula kisah menarik yang dapat menjadi inspirasi dari Marhany Pua, ketika menjadi para tokoh muda lintas agama di Sulawesi Utara, yang terus berjuang menjaga kedamaian dan merawat toleransi di daerah ini. Dan kini Sulawesi Utara terus menjadi provinsi terbaik dalam hal menjaga toleransi dan mencegah konflik horisontal SARA di Indonesia.

M. Firman Mustika, SH., MH
Buku Restorative Justice (RJ) ini berisi pendekatan dalam memecahkan masalah yang melibatkan korban, pelaku, serta elemen-elemen masyarakat demi terciptanya suatu keadilan. Dalam hubungannya dengan penegakan hukum pidana, restorative justice merupakan alternatif penyelesaian perkara tindak pidana yang semula mekanismenya berfokus pada pemidanaan, menjadi proses dialog dan mediasi yang melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait, untuk bersama-sama menciptakan kesepakatan atas penyelesaian perkara pidana yang adil dan seimbang bagi pihak korban maupun pelaku dengan mengedepankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan mengembalikan pola hubungan baik dalam masyarakat. Buku ini merupakan hasil karya yang dapat dijadikan sumber belajar bagi siapa pun khususnnya praktisi hukum sebagai dasar untuk penyelesaian perkara pidana yang berpedoman pada pendekatan keadilan restorative. Dengan tujuan restorative justice dalam konteks hukum pidana yaitu memberdayakan korban, pelaku, keluarga dan masyarakat untuk memperbaiki akibat dari suatu perbuatan tindak pidana yang telah dilakukan, dengan menggunakan kesadaran dan keinsyafan sebagai landasan untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat (konsep memandang keadilan tidak dari satu sisi, namun memandang dari berbagai pihak, baik untuk kepentingan korban, pelaku dan masyarakat).

Reymoond Kex Mudami
Di usianya yang ke-63 pada tahun 2023, Dekan Fakultas Pertanian Ir Dedie Tooy Msi, Ph.D untuk kali pertama dalam perjalanan Fakultas Pertanian mengambil inisiatif melengkapi khasanah literasi kepustakaan fakultas, melalui penulisan profil para mantan Dekan Fakultas Pertanian dan menerbitkan ke dalam sebuah buku Buku ini memuat perjalanan perjalanan Fakultas Pertanian Universitas Samratulangi (Unsrat) Manado menyiapkan sumberdaya manusia yang handal di Indonesia, khususnya Sulawesi. Bersamaan dengan upaya menjadikan pertanian Sulawesi Utara makin unggul, terus inovatif, dan bermakna, terkisahkan pula bagaimana para dekan menyiapkan proses itu secara inovatif dan bermakna. Terobosan yang dilakukan ini menjadi Fakultas Pertanian selalu terdepan, berkembang bersama fakultas-fakultas lain di Universitas Sam Ratulangi.

Basri Amin
BUKU ini muncul dari pergumulan “masyarakat warung kopi” yang menempatkan semua fakta berpotensi diperkarakan secara terbuka dan heroik. Landasan komposisinya adalah panggilan dan percakapan. Karena itu, kendati kekakuan rujukan akademis dan majemuknya data yang diolah dari berbagai dokumen dan momen diam-diam hendak disembunyikan tetapi akhirnya tetap juga tertangkap-terbuka di bagian akhir perjumpaan. BUKU ini muncul dari pergumulan “masyarakat warung kopi” yang menempatkan semua fakta berpotensi diperkarakan secara terbuka dan heroik. Landasan komposisinya adalah panggilan dan percakapan. Karena itu, kendati kekakuan rujukan akademis dan majemuknya data yang diolah dari berbagai dokumen dan momen diam-diam hendak disembunyikan tetapi akhirnya tetap juga tertangkap-terbuka di bagian akhir perjumpaan. BUKU ini muncul dari pergumulan “masyarakat warung kopi” yang menempatkan semua fakta berpotensi diperkarakan secara terbuka dan heroik. Landasan komposisinya adalah panggilan dan percakapan. Karena itu, kendati kekakuan rujukan akademis dan majemuknya data yang diolah dari berbagai dokumen dan momen diam-diam hendak disembunyikan tetapi akhirnya tetap juga tertangkap-terbuka di bagian akhir perjumpaan. Kematian daya cipta dan dedikasi pencerahan sangatlah mengerikan bagi sebuah Republik yang didirikan oleh para pemikir dan pejuang. Sentimen dasar yang butuh digerakkan di sebuh bangsa besar di mana feodalisme merupakan bangunan kulturalnya yang dominan adalah mempertanyakan setiap ketimpangan yang menyejarah.

Reiner Ointoe dkk
Buku ini berkisah mengenai perjalanan hidup Freddy T. Rorimpandey, tokoh asal Sulawesi Utara, yang awalnya berjuang dari ibukota Jakarta. Banyak cerita yang dapat dibagi, sejak masih kanak-kanak, masa sekolah, hingga bekerja dan kemudian menjadi birokrat di Sulawesi Utara, bahkan kemudian ditugaskan di luar negeri. Konsep Trio Bujang menjadi model yang luar biasa dan kemudian dikembangkan Freddy Rorimpandey untuk membangun sosial-ekonomi di daerah. Dan buku biografi ini merupakan persembahan luar biasa di usianya yang ke-80.

Jultje A.J. Rattu | Vivi N. Tumuju | Stephani J. Sigarlaki | Martje Egeten
Buku ini mengungkap toponim atau asal-usul penamaan kecamatan dan kelurahan di Kota Tomohon. Nama-nama tersebut memiliki latar belakang berbeda dan merupakan karakter daerah yang melekat pada masa itu. Pemberian nama-nama kecamatan beserta kelurahan di Kota Tomohon diketahui berasal dari berbagai aspek, di antaranya; sejarah, cerita rakyat setempat, nama-nama flora dan fauna (floranym dan faunanym) yang mendominasi di wilayah tersebut pada masa silam, nama latar rupabumi (geomorfonym), nama makanan (foodnym), dan kata sifat (adjektiva). Kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan perspektif berbeda terhadap suatu kota, yang bernama Tomohon.

Maya P. Warouw | Vany Kamu | Donald R. Lotulung | Vivi N. Tumuju
Buku ini memuat hasil penelitian tentang toponimi yakni situs-situs sejarah yang berada di Kabupaten Minahasa Tenggara khususnya di Kecamatan Ratahan. Subjek yang diteliti yaitu artefak peninggalan zaman Megalitikum yakni Batu Pasak, peninggalan gereja-gereja tertua, rumah bersejarah pendiri salah satu gereja, tempat pariwisata, dan mata pencaharian masyarakat. Lewat buku ini pula dapat dijumpai pembahasan mengenai apa itu toponimi beserta dengan contoh dari toponimi tersebut. Buku ini dilengkapi juga dengan penjelasan-penjelasan singkat mengenai kondisi Minahasa Tenggara. Maka dari itu, buku dengan judul Toponimi di Minahasa Tenggara ini dapat dimanfaatkan oleh peneliti yang tertarik dengan tema penelitian yang sama yakni toponimi. Secara garis besar buku ini terdiri dari 4 Bab: Bab 1 tentang Pengenalan Minahasa Tenggara; Bab 2 tentang Pengenalan Toponimi; Bab 3 tentang Toponimi di Kecamatan Ratahan, dan Bab 4 Hasil dan Kesimpulan. Dengan terbitnya buku diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kita semua.