Memuat...
Memuat...

Dr. Ir. John Leonard Tombokan, M.Si | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA | Prof. Dr. Ir. Desy M. H. Mantiri, DES, DEA | Dr. Ir. James J. H. Paulus, M.Si
Makroalga berperan besar dalam ekosistem pesisir, mulai dari penyumbang produktivitas primer dalam rantai makanan di laut, sumber produksi oksigen bagi organisme akuatik, penghasil bahan organik, hingga penyerap bahan polutan dan karbon. Makroalga pun memberikan manfaat besar bagi aktivitas ekonomi, baik sebagai bahan berbagai produk makanan, pakan, hingga kosmetik dan farmasi. Buku ini mengungkap keberadaan makroalga yang hidup di perairan pesisir semenanjung Minahasa. Secara khusus mengidentifikasi spesies makroalga dan struktur komunitas alga yang terbangun di kawasan pesisir ini. Diungkap dan diuraikan pula keberadaan konsentrasi logam berat yang terdapat di sedimen maupun pada makroalga, serta kualitas air di area tersebut. Paparan dalam buku ini, diharapkan kita dapat lebih memahami peran dari makroalga di alam. Termasuk pula menjadi informasi penting dalam bidang biodiversitas dan ekotoksikologi laut, sekaligus merancang kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir yang berkelanjutan. Makroalga pun dapat menjadi indikator alami dalam mendeteksi pencemaran perairan akibat logam berat.

ReO Fiksiwan
Buku ini, mengungkap pendekatan kritik sastra baru atas teks-teks puisi esai karya Denny JA. Karya Denny JA dinilai telah menjadi pioner hadirnya genre puisi esai, yang oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin telah memasukkannya sebagai 33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh sepanjang 100 tahun terakhir. Dan ReO Fiksiwan, sang penulis, mengulas secara apik dan mendalam perkembangan puisi esai di Indonesia serta karya-karya Denny JA.Penulisan buku epistemologi sastra ini, seperti disampaikan penulis, sebagai salah satu ikhtiar untuk mengembalikan fungsi sebagai literasi pengetahuan yang sangat komplit dan kompleks untuk menguak tabir tabiat, hayat dan karsa manusia dalam sejarah kebudayaan dan peradaban.

Femy M. Sahami | Abdul Hafidz Olii | Rene Charles Kepel | Sri Nuryatin Hamzah | Sitty Ainsha Habibie
Buku ini mengupas secara komprehensif tentang ikan nike, spesies unik yang hidup di perairan Gorontalo, melalui sudut pandang pengetahuan lokal serta pendekatan ilmiah modern. Berangkat dari mitos dan legenda yang berkembang di masyarakat Gorontalo, buku ini mengeksplorasi bagaimana masyarakat setempat telah lama memahami fenomena kemunculan ikan nike yang kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis dan tradisi budaya. Misteri di balik keberadaan ikan nike tidak hanya berhenti pada kepercayaan masyarakat, tapi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Gorontalo. Ilmu pengetahuan modern menawarkan penjelasan lebih lanjut tentang spesies ini. Melalui buku ini disajikan kajian ilmiah yang mendalam mengenai ekologi, siklus hidup, dan taksonomi ikan nike yang mengungkap bahwa ikan nike adalah gerombolan postlarva dari jenis gobi amphidromus. Integrasi antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern ini membuka wawasamn baru tentang bagaimana pendekatan konservasi berkelanjutan dapat diterapkan untuk melindungi ikan nike dari ancaman kepunahan.

Dr. Dra. Siti Suhaeni, M.Si | Dr. Ir. Swenekhe Sandra Durand, M.Si | Dr. Ir. Srie Jean Sondakh, M.Si | Dr. Ir. Jeannette F. Pangemanan, M.Si | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA
Menyebut ikan cakalang, dapat langsung terbayangkan ikan favorit warga pada banyak tempat di Indonesia, bahkan luar negeri. Cakalang bersama tuna menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia. Dan Kota Bitung di provinsi Sulawesi Utara, menjadi pengirim utama ikan cakalang (dan tuna) dari Indonesia ke luar negeri. Begitu juga ketika menyebut cakalang fufu, maka ikan asap ini menjadi bahan kuliner populer untuk diolah menjadi beragam jenis menu. Bahan kuliner dari cakalang fufu ini bukan hanya dikenal di daerah ‘asalnya’, yaitu Sulawesi Utara, melainkan pula disukai oleh banyak orang di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia. Banyak orang yang datang ke Manado atau Sulawesi Utara, menjadikan ‘ikan cakalang fufu’ sebagai menu yang harus disantap. Buku ini mengungkap aktivitas industri kecil cakalang fufu yang sudah dikembangkan masyarakat setempat sejak lama. Terulas bagaimana pengalaman para pelaku industri rumah tangga ini bertahan untuk menjaga mutu, mengembangkan teknologi, menghadapi kekurangan bahan baku, hingga keterbatasan modal dan pemasaran. Alternatif model pemberdayaan pula disiapkan agar industri kecil yang sudah mentradisi di Kota Cakalang bisa berkelanjutan.
Dr. Ir. Reni Lusia Kreckhoff, M.Si | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA | Dr. Ir. Edwin L.A. Ngangi, M.Si.
Indonesia memiliki sekira 555 jenis rumput laut, yang 55 di antaranya mempunyai nilai ekonomis. Rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii, termasuk salah satu yang fokus dikembangkan. Rumput laut ini dinilai punya keunggulan, dan terutama lagi bernilai ekonomis tinggi untuk kegiatan budidaya masyarakat.Meski demikian, disadari tak semua wilayah pesisir cocok dikembangkan usaha budidaya rumput laut. Ada beberapa pertimbangan ekologis mesti diperhatikan agar usaha budidaya rumput merah berjalan lancar dan meraup hasil yang diharapkan. Buku ini mengungkap dan membahas kesesuaian ekologis rumput laut sebagai usaha budidaya.Tak ketinggalan pula dibahas perhitungan ekonomi yang mesti keluarkan ketika menjalani usaha budidaya rumput laut. Pengalaman dari pelaku budidaya di semenanjung Minahasa dapat dijadikan rujukan, bahwa investasi lahan usaha ditanam dalam dikembalikan dalam satu siklus panen.

Jerry W. Kojansow | Medy Ompi | Janny D. Kusen | Lucky Lawrence J.L. Lumingas | Silvester Benny Pratasik
Reef ball™ merupakan salah satu dari beberapa model terumbu buatan di dunia. Terumbu buatan Reef ball™ telah diaplikasikan di Indonesia dan sejumlah negara. Hasilnya, Reef ball™ ini berkembang baik dan menjadi habitat baru beragam jenis biota. Pengalaman aplikasi terumbu buatan Reef ball™ di Tanjung Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, dapat menjadi pembelajaran penting. Sejak Reef ball™ pertama kali diletakkan di laut pada 1999 sampai 2001, beberapa tahun kemudian terumbu buatan ini telah menjadi tempat menempel dan bertumbuh berbagai jenis karang, menjadi ‘rumah’ baru beragam jenis ikan karang dan biota laut lainnya. Buku ini mengulas teknik mengaplikasi terumbu Reef ball™ di laut, termasuk monitoring hingga teknik riset terumbu karang dan biota yang berasosiasi. Keberadaan terumbu buatan Reef ball™ pun menjadi pilihan restorasi karang. Termasuk lokasi yang memiliki aktivitas anthropogenik yang tinggi di daratan.

Dr. Ir. Florence Verra Longdong, M.Si. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Dr. Ir. Johnny Budiman, M.Si., M.Sc.
Kebijakan moratoriun perikanan yang dilakukan pemerintah Indonesia memberikan dampak besar akrivitas ekonomi sektor perikanan. Kebijakan yang bertujuan menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan, telah ikut memporak-porandakan industri perikanan, karena banyak kapal angkut tidak bisa beroperasi dan industri perikanan mengalami kekurangan bahan baku. Bitung sebagai kota pelabuhan perikanan di kawasan timur Indonesia mejadi ‘saksi’ menurunnya hasil tangkapan ikan dan berhentinya aktivitas beberapa perusahaan pengolahan ikan, karena ketiadaan bahan baku. Meski di sisi lain kebijakan moratorium dapat dinikmati nelayan kecil dan kapal penangkap ikan di bawah 10GT dengan hasil penangkapan yang lebih banyak dan jarak melaut yang pendek. Buku ini mengulas tentang kehidupan nelayan dan keluarganya ketika menghadapi kebijakan moratorium perikanan. Informasi yang tertampilkan pada buku ini dapat menjadi bahan pertimbangan terbaru ketika melakukan analisis kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Dr. Ir. Darus Sa'adah Johanis Paransa, M.Si | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES., DEA. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Ir. Medy Ompi, M.Sc, Ph.D | Prof. Ir. Farnis Bineada Boneka, M.Sc. | Dr. Kurniati Kemer, S.IK, M.Si
Kepiting batu bukanlah jenis biota yang diburu untuk konsumsi manusia. Namun ragam kepiting yang hidup di pantai berbatu ini lebih bernilai ekologis. Kepiting batu ikut berperan menjaga keberadaan populasi biota di area pantai berbatu, termasuk berkaitan dengan rantai makanan di kawasan tersebut. Kepiting batu pun memiliki pigmen karetenoid yang bernilai penting bagi kesehatan manusia maupun industri farmasi yang berprospek ekonomis. Buku ini mengungkap keberadaan kepiting batu, Grapsus albolineatus, mulai bioekologi, pergantian karapas, hingga ragam pigmen yang dimilikinya. Bagaimana teknik menentukan dan menganalisis pigmen pada biota laut ini hingga penentuan konsentrasi dan kandungan pigmen karatenoid yang dimiliki. Begitu juga jenis pigmen yang dimiliki karapas dari hasil molting atau ganti kepiting batu tersebut, tertampilkan dalam buku ini. Paparan yang tersajikan dalam buku ini dapat menjadi literatur penting bagi pembelajaran dan pengembangan ilmu dan teknologi kelautan di Indonesia. Ragam riset yang dilakukan terhadap diharapkan dapat terus menyeimbangkan nilai ekonomis dan ekologis di berbagai kawasan pesisir nusantara.

Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Dr. Ir. Ridwan Lasabuda, M.Si. | Prof. Dr. Ir. Carolus P. Paruntu, M.Sc. | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES, DEA. | Samuel Leivy Opa, S.Kel., M.Si.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Sekira tujuhbelas ribu pulau yang ada di nusantara, dengan ragam potensi sumberdaya alam dan kekhasan budaya masyarakatnya. Di antara jumlah tersebut ada 111 pulau yang ditetapkan sebagai pulau-pulau kecil terluar, yang hanya dapat dimanfaatkan untuk pertahanan dan keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Buku ini mengungkap informasi ilmiah mengenai strategi pengelolaan ekowisata mangrove di pulau kecil terluar Indonesia. Pulau Mantehage yang berada di perairan utara Indonesia, menjadi satu lokasi riset penting untuk memperoleh gambaran mengenai model pengelolaan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil terluar nusantara. Ekowisata menjadi pilihan karena konsep pengelolaanya memadukan pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Paparan yang tersaji dalam buku ini dapat menjadi panduan bagi pemangku kepentingan untuk mengembangkan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil. Kajian analisis struktur komunitas mangrove dan penilaian indeks kesesuaian wisata (IKW) mangrove sebagai aspek utama untuk menentukan suatu kawasan layak menjadi destinasi wisata. Dan Pulau Mantehage yang masuk kawasan Taman Nasional Bunaken menjadi pintu masuk pengelolaan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil terluar Indonesia.