Memuat...
Memuat...

Dr. Dra. Siti Suhaeni, M.Si | Dr. Ir. Swenekhe Sandra Durand, M.Si | Dr. Ir. Srie Jean Sondakh, M.Si | Dr. Ir. Jeannette F. Pangemanan, M.Si | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA
Menyebut ikan cakalang, dapat langsung terbayangkan ikan favorit warga pada banyak tempat di Indonesia, bahkan luar negeri. Cakalang bersama tuna menjadi salah satu komoditi andalan Indonesia. Dan Kota Bitung di provinsi Sulawesi Utara, menjadi pengirim utama ikan cakalang (dan tuna) dari Indonesia ke luar negeri. Begitu juga ketika menyebut cakalang fufu, maka ikan asap ini menjadi bahan kuliner populer untuk diolah menjadi beragam jenis menu. Bahan kuliner dari cakalang fufu ini bukan hanya dikenal di daerah ‘asalnya’, yaitu Sulawesi Utara, melainkan pula disukai oleh banyak orang di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia. Banyak orang yang datang ke Manado atau Sulawesi Utara, menjadikan ‘ikan cakalang fufu’ sebagai menu yang harus disantap. Buku ini mengungkap aktivitas industri kecil cakalang fufu yang sudah dikembangkan masyarakat setempat sejak lama. Terulas bagaimana pengalaman para pelaku industri rumah tangga ini bertahan untuk menjaga mutu, mengembangkan teknologi, menghadapi kekurangan bahan baku, hingga keterbatasan modal dan pemasaran. Alternatif model pemberdayaan pula disiapkan agar industri kecil yang sudah mentradisi di Kota Cakalang bisa berkelanjutan.
Dr. Ir. Reni Lusia Kreckhoff, M.Si | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA | Dr. Ir. Edwin L.A. Ngangi, M.Si.
Indonesia memiliki sekira 555 jenis rumput laut, yang 55 di antaranya mempunyai nilai ekonomis. Rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii, termasuk salah satu yang fokus dikembangkan. Rumput laut ini dinilai punya keunggulan, dan terutama lagi bernilai ekonomis tinggi untuk kegiatan budidaya masyarakat.Meski demikian, disadari tak semua wilayah pesisir cocok dikembangkan usaha budidaya rumput laut. Ada beberapa pertimbangan ekologis mesti diperhatikan agar usaha budidaya rumput merah berjalan lancar dan meraup hasil yang diharapkan. Buku ini mengungkap dan membahas kesesuaian ekologis rumput laut sebagai usaha budidaya.Tak ketinggalan pula dibahas perhitungan ekonomi yang mesti keluarkan ketika menjalani usaha budidaya rumput laut. Pengalaman dari pelaku budidaya di semenanjung Minahasa dapat dijadikan rujukan, bahwa investasi lahan usaha ditanam dalam dikembalikan dalam satu siklus panen.

Jerry W. Kojansow | Medy Ompi | Janny D. Kusen | Lucky Lawrence J.L. Lumingas | Silvester Benny Pratasik
Reef ball™ merupakan salah satu dari beberapa model terumbu buatan di dunia. Terumbu buatan Reef ball™ telah diaplikasikan di Indonesia dan sejumlah negara. Hasilnya, Reef ball™ ini berkembang baik dan menjadi habitat baru beragam jenis biota. Pengalaman aplikasi terumbu buatan Reef ball™ di Tanjung Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, dapat menjadi pembelajaran penting. Sejak Reef ball™ pertama kali diletakkan di laut pada 1999 sampai 2001, beberapa tahun kemudian terumbu buatan ini telah menjadi tempat menempel dan bertumbuh berbagai jenis karang, menjadi ‘rumah’ baru beragam jenis ikan karang dan biota laut lainnya. Buku ini mengulas teknik mengaplikasi terumbu Reef ball™ di laut, termasuk monitoring hingga teknik riset terumbu karang dan biota yang berasosiasi. Keberadaan terumbu buatan Reef ball™ pun menjadi pilihan restorasi karang. Termasuk lokasi yang memiliki aktivitas anthropogenik yang tinggi di daratan.

Dr. Ir. Florence Verra Longdong, M.Si. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Dr. Ir. Johnny Budiman, M.Si., M.Sc.
Kebijakan moratoriun perikanan yang dilakukan pemerintah Indonesia memberikan dampak besar akrivitas ekonomi sektor perikanan. Kebijakan yang bertujuan menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan, telah ikut memporak-porandakan industri perikanan, karena banyak kapal angkut tidak bisa beroperasi dan industri perikanan mengalami kekurangan bahan baku. Bitung sebagai kota pelabuhan perikanan di kawasan timur Indonesia mejadi ‘saksi’ menurunnya hasil tangkapan ikan dan berhentinya aktivitas beberapa perusahaan pengolahan ikan, karena ketiadaan bahan baku. Meski di sisi lain kebijakan moratorium dapat dinikmati nelayan kecil dan kapal penangkap ikan di bawah 10GT dengan hasil penangkapan yang lebih banyak dan jarak melaut yang pendek. Buku ini mengulas tentang kehidupan nelayan dan keluarganya ketika menghadapi kebijakan moratorium perikanan. Informasi yang tertampilkan pada buku ini dapat menjadi bahan pertimbangan terbaru ketika melakukan analisis kebijakan perikanan berkelanjutan di Indonesia.

Dr. Ir. Darus Sa'adah Johanis Paransa, M.Si | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES., DEA. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Ir. Medy Ompi, M.Sc, Ph.D | Prof. Ir. Farnis Bineada Boneka, M.Sc. | Dr. Kurniati Kemer, S.IK, M.Si
Kepiting batu bukanlah jenis biota yang diburu untuk konsumsi manusia. Namun ragam kepiting yang hidup di pantai berbatu ini lebih bernilai ekologis. Kepiting batu ikut berperan menjaga keberadaan populasi biota di area pantai berbatu, termasuk berkaitan dengan rantai makanan di kawasan tersebut. Kepiting batu pun memiliki pigmen karetenoid yang bernilai penting bagi kesehatan manusia maupun industri farmasi yang berprospek ekonomis. Buku ini mengungkap keberadaan kepiting batu, Grapsus albolineatus, mulai bioekologi, pergantian karapas, hingga ragam pigmen yang dimilikinya. Bagaimana teknik menentukan dan menganalisis pigmen pada biota laut ini hingga penentuan konsentrasi dan kandungan pigmen karatenoid yang dimiliki. Begitu juga jenis pigmen yang dimiliki karapas dari hasil molting atau ganti kepiting batu tersebut, tertampilkan dalam buku ini. Paparan yang tersajikan dalam buku ini dapat menjadi literatur penting bagi pembelajaran dan pengembangan ilmu dan teknologi kelautan di Indonesia. Ragam riset yang dilakukan terhadap diharapkan dapat terus menyeimbangkan nilai ekonomis dan ekologis di berbagai kawasan pesisir nusantara.

Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA. | Dr. Ir. Ridwan Lasabuda, M.Si. | Prof. Dr. Ir. Carolus P. Paruntu, M.Sc. | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES, DEA. | Samuel Leivy Opa, S.Kel., M.Si.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Sekira tujuhbelas ribu pulau yang ada di nusantara, dengan ragam potensi sumberdaya alam dan kekhasan budaya masyarakatnya. Di antara jumlah tersebut ada 111 pulau yang ditetapkan sebagai pulau-pulau kecil terluar, yang hanya dapat dimanfaatkan untuk pertahanan dan keamanan, kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan. Buku ini mengungkap informasi ilmiah mengenai strategi pengelolaan ekowisata mangrove di pulau kecil terluar Indonesia. Pulau Mantehage yang berada di perairan utara Indonesia, menjadi satu lokasi riset penting untuk memperoleh gambaran mengenai model pengelolaan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil terluar nusantara. Ekowisata menjadi pilihan karena konsep pengelolaanya memadukan pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Paparan yang tersaji dalam buku ini dapat menjadi panduan bagi pemangku kepentingan untuk mengembangkan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil. Kajian analisis struktur komunitas mangrove dan penilaian indeks kesesuaian wisata (IKW) mangrove sebagai aspek utama untuk menentukan suatu kawasan layak menjadi destinasi wisata. Dan Pulau Mantehage yang masuk kawasan Taman Nasional Bunaken menjadi pintu masuk pengelolaan ekowisata mangrove di pulau-pulau kecil terluar Indonesia.

Dr. Ir. Indra Raymond Nicolas Salindeho, M.App.Sc. | Dr. Ir. Reiny Antonetha Tumbol, M.App.Sc. | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES, DEA. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA.
Ikan nike sudah lama dikenal sebagai komoditi perikanan penting masyarakat, terutama di kawasan timur Indonesia. Namun informasi mengenai keberadaan ikan nike masih sangat terbatas, disamping beragam sumberdaya perikanan lainnya. Buku ini menjadi salah satu jawaban terhadap keberadaan ikan nike di perairan nusantara.Studi biodiversitas ikan nike menjadi tahapan penting bagi pengelolaan ikan nike secara berkelanjutan. Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo termasuk wilayah yang paling aktif mengembangkan riset berhubungan dengan ikan nike, untuk memperoleh informasi ilmiah menyangkut keanekaragaman komposisi spesies gerombolan ikan nike, baik menurut musim kemunculan dan lokasi, hingga pemahaman habitat, siklus hidup, dan pola migrasinya. Tak hanya itu, kemampuan adaptasi post-larva ikan nike dikaji untuk memperoleh kondisi lingkungan artifisial terkontrol dalam akuakultur.Buku ini merangkum beragam riset berkaitan dengan ikan nike sebagai bahan literasi penting di masyarakat. Beragam informasi tersebut dapat menjadi pondasi penting bagi pengelolaan yang tepat untuk populasi ikan nike di perairan. Apalagi hasil riset menunjukkan bahwa ikan nike prospektif bagi pengembangan budidaya.

Dr. Ir. Novie Pankie Lukas Pangemanan, M.Si. | Dr. Ir. Reiny Antonetha Tumbol, M.App.Sc. | Prof. Dr. Ir. Desy Maria Helena Mantiri, DES, DEA. | Prof. Dr. Ir. Rene Charles Kepel, DEA.
Ikan nike menjadi sumber perikanan penting dan menjadi primadona di wilayah utara Pulau Sulawesi. Tingginya permintaan terhadap ikan nike, ikut membuka peluang eksploitasi berlebihan terhadap ikan ini. Pengkajian mengenai keberadaan sumberdaya perikanan ini terus dilakukan, terutama untuk pengelolaan ikan nike secara berkelanjutan. Identifikasi spesies berdasarkan karakter morfometrik dan molekuler, saat ini, dianggap lebih akurat, karena gen itu melekat sejak spesies itu dipijahkan dari induknya. Karakter morfometrik dapat digunakan untuk mengukur jarak dan hubungan kekerabatan dalam pengkategorian variasi dalam taksonomi. Studi mengenai morfometrik dan molekuler ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui keragaman morfologi dan genetik dari ikan nike serta untuk mengetahui hubungan kekerabatannya. Buku ini mengungkap karakteristik morfologi, pola melanofor, dan filogenetik molekuler ikan nike, terutama yang ada di Danau Tondano, muara Sungai Tondano, dan muara Sungai Poigar. Paparan kajian buku ini dapat menjadi informasi penting sebagai peletakan dasar untuk pengelolaan ikan nike secara berkelanjutan.

Oktavianus Lintong
Buku ini mengulas tentang alam, budaya, dan eksistensi masyarakat lokal, yang selama ini ‘dimanfaatkan’ untuk kemajuan kepariwisataan, dan bagaimana ketiganya berperan penting menjadi kepariwisataan tetap hidup. Diuraikanbagaimana alam, budaya, dan eksistensi masyarakat lokal, seharusnya dibumikan dalam konsep pembangunan kepariwisataan Indonesia. Tidak hanya dimanfaatkan untuk meraup keuntungan, namun ketiganya sangat patut menjadi bagian integral dan sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan kepariwisataan di Indonesia.